Minggu, 18 Oktober 2015

Bedah Documentary film festival 2015 Al-Ghoriib




Bedah film al-ghoriib ini diadakan di Aula G, PP Al-Munawwir krapyak, Yogyakarta. Kemarin minggu pada tanggal 20 september 2015 jam 10 WIB. Dengan menghadirkan kreator film dan pembaca film diantaranya: Vedy santoso (sutradara film al-ghoriib), Dr. Katrin Bandel (subyek film al-ghoriib), Agus Qusyairi, S.Psi ( aktivis ilmu psikologi) dan yang terakhir Syarwani, S.S., M.S.I (Pengamat budaya pesantren). Dalam rangka muktamar NU ke-33 documentary film festival 2015. Film al-ghoriib ini menceritakan tentang seorang yang awalnya hanya bisa menutup diri selama dua tahun dan akhirnya berhenti menutup diri untuk bisa jadi motivasi untuk orang lain bahkan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain juga melalui jatuh diri mencari sesuatu yang muncul tiba-tiba dalam hatinya. Dan Alhamdulillah film tersebut menjadi juara ke-3 dari 66 pendaftar ,tukas pengurus al-munawwir. Dia juga menambahkan bahwa walaupun juara tiga, itu sudah memberikan dampak besar bagi pesantren karena menunjukkan bahwa film-film santri tidak kalah dari film-film yang lain. Juga menggalih potensi-potensi yang terpendam dari santri. Film yang di sutradarai oleh vedy santoso ini berbeda dari film-film sebelumnya karena awalnya tidak terfikir membuat film tersebut hanya sebuah feeling saja yang berasal dari sosok Dr. Katrin Bandel yang ada di pesantren tersebut yang jarang ia temui di pesantren lain dan dia juga merasa asing dengan perjalanan cahaya yang berawal dari PP Al-Munawwir yang berarti juga cahaya dan kembali ke cahaya lagi dan dari situlah di angkat kisah nyata bukan karangan.menariknya lagi bedah film itu diadakan sebagai ajang penambah wawasan untuk santri. Acara tersebut dimulai dari pemutaran film dokumenter al-ghoriib dengan durasi waktu 45 menit. Menurut santri yang hadir “ film ini sangat menyentuh hati dan juga sangat memotivasi dari pengetahuan-pengetahuan yang baru ini untuk terus ingat kepada sang penciptanya”ucapnya sambil menitihkan air mata karena haru. Acara itu juga dilanjutkan dengan diskusi seputar proses kreatif pembuatan film bahkan makna yang terkandung di dalamnya yang bertemakan “ membaca spiritualitas pesantren” membuat acara tersebut menjadi seru, tegang dan haru. Al-ghoriib disini saya coba dari prespektif khasanah intelektual pesantren makna al-ghoriib ini sangat luas kajiannya dari para ulama kita khususnya pada ulama tafsir. Ulama hadis dan sebagainya. Lafad al-ghoriib secara bahasa adalah dinamakan asing selain itu juga peristiwa aneh. Tukas pengamat budaya pesantren. Menurutnya juga al-ghoriib itu sudah ada dalam khasanah intelektual pesantren untuk menarik hikmah dari sebuah pelajarannya. Dan juga temanya sangat bagus dan luar biasa harus mencangkup pesantren bukan hanya komplek saja, tuturnya.mnurut aktivis psikologi al-ghoriibatau suatu keanehan / keasingan yang dianggap suetu ilmiah sebuah kebenaran. Diantaranya terdapat pertanyaan-pertanyaaan. Tapi semua santri antusias dengan beberapa pertanyaan diantarannya adalah tentang pengalaman di jerman dan sisi sulitnya mbk. Katrin dalam keluarganya setelah menjadi seorang muslim. Menurut dia itu adalah memang sebuah hal berat bahkan jadi tantangan bagi dia soalnya untuk cari tempat sholat dan wudhu yang tidak dimana-mana ada masjid itu diatasi dia dengan membawa botol aqua kemana-mana untuk wudhu. Tapi itu bukan hal tersulitnya , hal tersulitnya itu adalah dengan keluarga karena dia masih melepas jilbab disana karena budaya kampung nanti menganggap aneh diri saya dan sekedar hanya menghormati orang tuanya terutama ibunya yang masih berat menerima keislamannya apalagi melihat dia mengenakan jilbab mungkin sangat berat sekali bagi ibunya. Apa yang bagi dia adalah anugerah tapi bagi ibunya merupakan musibah terbesar baginya. Dia juga merenungi karena disisi lain dia sebagai anak dan seorang muslim harus menghormati orang tua, harus membahagiakan orangtuannya tapi situasinya seperti itu mnurut dia itu tidak mudah. Dan dia juga jika berpikiran lebih jauh dia merasa khawatir dengan keselamatan orang tuannya karena keduanya tidak bertuhan bagaimana nasib kedua orang tuannya setelah meninggal. Ya menurut dia itu yang terberat bagi dia.begitulah kisah nyata yang penuh inspiratif dan menyadarkan kita semua bahwasannya hidup itu seperti air yang mengalir tapi tak harus hanyut terus dengan arusnya maksudnya adalah hidup itu mengalir seiringnya berjalannya keidupan tapi kita tidak boleh hanyut dalam kehidupan itu, kita mempunyai banyak hak untuk memilih ingin jadi apa kita dan apa tujuan kita karena hidup itu pilihan dan hanya sekali seumur hidup dan takkan terulang kembali dan kita harus ingat bahwa kita besok akan kembali pada sang penciptannya.

 http://www.kompasiana.com/kusnia/bedah-documentary-film-festival-2015-al-ghoriib_55fef5093cafbda30c92c401

Kamis, 08 Oktober 2015

Banyuwangi Beach Jazz Festival



Banyuwangi Beach Jazz Festival

Tepatnya kemarin malem pada tanggal 12 september pukul 19:00WIB di Pantai Boom. Banyuwangi mengadakan acara festival jazz yang ke sekian kali. Dengan dihadiri bintang tamu diantarannya Citra Scholastika, Once Mekel, Marcel Siahaan, Shena Malsiana dan Vina Panduwinata. Dengan host yang begitu kocak yaitu desta & Vincent menjadi acara tersebut berjalan dengan baik. Walaupun tidak membeli tiket kita juga dapat melihatnya secara live di proyektor yang sudah di sediakan di luar panggung sehingga kita bebas melihatnya walaupun tidak bertatap langsung dengan penyanyinya. Acara tersebut juga di siarkan secara live di tv banyuwangi. Acaranya begitu meriah dan mewah dengan penataan panggung yang elegan dan ditambah iringan music jazz yang begitu bagus makin membuat acara tersebut terkesan sekali bagi yang melihatnya secara live. Mungkin karena acar tersebut diadakan dengan persiapan yang begitu matang dan diperkira-kirakan secara hebat. Apalagi penataan sorotan lampu yang indah membuat acara tersebut istimewah. Festival tersebut juga dihadiri banyak masyarakat yang mengidolakan music jazz bahkan tourism juga ada disitu.
Berhubungan dengan acara tersebut tidak hanya digelar untuk mempromosikan kota Banyuwangi dan pariwisatannya akan tetapi juga bertujuan untuk menumbuhkan partisipasi dan kepedulian masyarakat terhadap daerah. Bukan hanya itu tapi juga untuk memaksimalkan potensi daerah dan memberikan semangat kepada masyarakat untuk bersama-sama membangun Banyuwangi.’kata bupati Azwar Anas. Kebayangkan serunnya gimana hehehe. Menurut sebagian orang music jazz adalah musik yang biasa dikenal untuk kalangan atas dan hanya orang yang berselera tinggi yang menyukai jenis musik tersebut. Jarang sekali orang biasa menyukai music jazz yang katanya music jazz untuk pengantar tidur. Semua itu salah besar music jazz itu sifatnya menyeluruh bahkan ada banyak pelajar yang mengagumi music tersebut dengan nada dalam bernyanyi yang santai dan mendayu-dayu indah sampai membuat orang tersihir dan jatuh cinta bahkan sampai tergila-gila.
Music jazz ini kesekian kalinnya banyuwangi mengadakan festival jazz. Sebelumnya yaitu untuk memperigati hari jadi banyuwangi pada tahun 2012 di gesibu blambangan dengan bintang tamu Syaharani and queenfireworks, Rika Roeslan,Monita Tahalea, Reza “the groove” bahkan kolaborasi Riza Arshad dengan komunitas music ethnic banyuwangi tetapi penonton masuknya tidak menggunakan tiket namun menggunakan invitation (undangan) resmi dari kabupaten banyuwangi. Dan tahun selanjutnya di adakan juga di pantai boom banyuwangi. Dengan bintang tamu trio lestari yang diantarannya adalah Glenn Fredly ,Sandhi Sandoro dan Tompi. Belum lagi pada tahun 2014 ada event jazz ijen banyuwangi dan turut mengundang 3 musisi besar Indonesia yaitu Faris RM . Deddy Dhukun juga imaniar dan juga artis ternama. Tujuan dari festival music tersebut bukan untuk senang-senang melainkan penggalangan dana untuk disumbangkan ke PMI untuk membantu orang yang tidak mampu untuk membayar kesehatan misalnnya operasi katarak dan lain-lain, Wah serunnya.. menurut masyarakat banyuwangi festival tersebut sangat berkesan karena festival tersebut menambahi masyarakat ilmu pengetahuan tentang aliran musik seni yang lain dan bisa menjadikan cermin untuk terus maju.
Jangan khawatir yang pingin lihat even-even kota banyuwangi yang sampai saat ini belum kesampaian soalnya masih banyak kok evennya diantarannya tumpeng sewu kemiren, seblang bakungan, international surfing competition, festival gandrung sewu, festival wayang kulit, banyuwangi plantation, banyuwangi batik festival, festival anak yatim, banyuwangi ethno carnival, festival ngopi sepuluh ewu, dan festival kuwung. Yang jumlah semuannya adalah 11. Dan even-even itu selalu di lakukan setahun sekali tujuannya untuk hiburan rakyat sekaligus memperkenalkan banyuwangi dengan keindahannya melalui event-event tersebut.


Jumat, 02 Oktober 2015

Alun-alun dimana hijaumu???

        Rencana pemerintahan Yogyakarta memperindah alun-alun  dari mulai penertiban PKL. Yang menimbulkan banyak kontroversi.dan memperbaiki alun-alun mulai dilakukan,dan awal semulanya hanya sebuah wacana belaka sekarang sudah mulai terlaksanakan. 
Alun-alun mempunyai daya tarik tersendiri dan itulah yang dilihat dari sebuah kota tertentu. Jika alun-alun itu tak terawat berarti alun-alun itu tidak mencerminkan kota itu sendiri. Di berbagai kota sudah mulai berlomba-lomba memperbaiki dan mempercantik alun-alun mungkin agar menarik parawisata mau berwisata di daerah tersebut.beda halnya dengan alun-alun di Yogyakarta. Yaitu Altar, altar dikenal dengan tempat dimana semua orang berkumpul baik dengan keluarga, teman , bahkan hiburan untuk hati yang bersedih. Alun-alun utara ini disiang hari teramat sangat panas apalagi bulan September ini memperihatinkan sekali seperti gurun yang gersang, tandus tanpa rumput yang tumbuh dan jarang orang yang bermain ke altar waktu siang hari. Paling tidak orang tersebut hanya mengunjungi keraton saja, disisi lain altar juga digunakan untuk banyak event yang sifatnya resmi dan tidak resmi.
 Diantaranya yang resmi adalah acara sekaten , dan tidak resminnya adalah seperti jalan sehat, konser,pentas seni,pasar malam. Dan masih banyak lainnya. Sehingga hal tersebut membuat rumput-rumput yang hidup disana terinjak-injak mati ,tak terawat dan memprihatinkan. Pinggir paving jalan juga rusak karena mobil dan bus sering di parkir di tengah lapangan dan itu memperburuk keadaan.dan kondisi tersebut itu tidak seindah dulu. Walaupun sudah begitu tidak mengurangi daya tarik untuk tetap mengunjungi altar yang dikenal dengan landmark kota Yogyakarta dengan pagelaran kraton jogja.
 Rencana perbaikan alun-alun sudah mulai terlihat dari pasir di sepanjang lapangan alun-alun dan penertiban PKL juga tanpa mematikan usaha pedagang. Tujuan penertiban yaitu untuk penertiban agar teratur dan tidak berantakan disekitar alun-alun. Perbaikan bukan hanya pada alun –alun tapi juga perbaikan keraton juga karena cat dinding dan pagar yang mulai memudar dan mengganti kayu-kayu yang mulai lapuk. Dan tak lupa juga pengecatan genting keraton yang proses pengecatannya dengan hati-hati karena hanya dengan seutas tali diteriknya matahari di siang hari. Perbaikan tersebut juga slalu di awasi.agar  berjalan dengan lancar dan cepat.
Alun-alun utara atau yang disebut dalam bahasa jawa alun-alun lor karena terletak di sebelah utara keraton dan sebelah selatan dari kawasan titik nol kilometer Yogyakarta. Alun-alun merupakan lapangan terbuka yang luas dan dikelilingi oleh jalan beraspal yang dulunya juga digunakan untuk berlatih perang bagi prajurit kerajaan, tempat sayembara,pusat perdagangan, dan hiburan dulunnya.
Di salah sudutnya terdapat museum sonobodoyo sehingga kita mengetahui banyak sejarah di kota yang di kenal kekeratonannya itu dan juga disana terdapat masjid keraton Yogyakarta hal terseut menambah keagamaan kita karena disisi kita berwisata kita juga harus menjalani ibadah juga tanpa melupakan kewajiban setiap agama. Di Yogyakarta memiliki dua alun-alun yang pertama adalah alun-alun utara dan yang kedua adalah alun-alun kidul. Menariknya adalah kedua alun-alun tersebut memiliki kesamaan yaitu terdapat dua pohon beringin ditengah-tengahnya.dan hal tersebut juga mempunyai banyak cerita mistis. Semisal di alun-alun kidul konon kalau kita bisa lurus melewati tengah-tengah pohon itu dengan mata tertutup maka semua permintaannya akan terkabul.itulah yang membuat orang pelancong dalam negeri maupun luar negeri tertarik untuk mencoba hal tersebut.walupun hanya mitos itu merupakan daya tarik sendiri untuk alun-alun Yogyakarta. Semoga alun-alun jogja menjadi hijau kembali ,’itu harapan banyak masyarakat Yogyakarta.