Bedah film
al-ghoriib ini diadakan di Aula G, PP Al-Munawwir krapyak, Yogyakarta. Kemarin
minggu pada tanggal 20 september 2015 jam 10 WIB. Dengan menghadirkan kreator
film dan pembaca film diantaranya: Vedy santoso (sutradara film al-ghoriib),
Dr. Katrin Bandel (subyek film al-ghoriib), Agus Qusyairi, S.Psi ( aktivis ilmu
psikologi) dan yang terakhir Syarwani, S.S., M.S.I (Pengamat budaya pesantren).
Dalam rangka muktamar NU ke-33 documentary film festival 2015. Film al-ghoriib
ini menceritakan tentang seorang yang awalnya hanya bisa menutup diri selama
dua tahun dan akhirnya berhenti menutup diri untuk bisa jadi motivasi untuk
orang lain bahkan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain juga melalui jatuh
diri mencari sesuatu yang muncul tiba-tiba dalam hatinya. Dan Alhamdulillah
film tersebut menjadi juara ke-3 dari 66 pendaftar ,tukas pengurus al-munawwir.
Dia juga menambahkan bahwa walaupun juara tiga, itu sudah memberikan dampak
besar bagi pesantren karena menunjukkan bahwa film-film santri tidak kalah dari
film-film yang lain. Juga menggalih potensi-potensi yang terpendam dari santri.
Film yang di sutradarai oleh vedy santoso ini berbeda dari film-film sebelumnya
karena awalnya tidak terfikir membuat film tersebut hanya sebuah feeling saja
yang berasal dari sosok Dr. Katrin Bandel yang ada di pesantren tersebut yang
jarang ia temui di pesantren lain dan dia juga merasa asing dengan perjalanan
cahaya yang berawal dari PP Al-Munawwir yang berarti juga cahaya dan kembali ke
cahaya lagi dan dari situlah di angkat kisah nyata bukan karangan.menariknya
lagi bedah film itu diadakan sebagai ajang penambah wawasan untuk santri. Acara
tersebut dimulai dari pemutaran film dokumenter al-ghoriib dengan durasi waktu
45 menit. Menurut santri yang hadir “ film ini sangat menyentuh hati dan juga
sangat memotivasi dari pengetahuan-pengetahuan yang baru ini untuk terus ingat
kepada sang penciptanya”ucapnya sambil menitihkan air mata karena haru. Acara
itu juga dilanjutkan dengan diskusi seputar proses kreatif pembuatan film
bahkan makna yang terkandung di dalamnya yang bertemakan “ membaca
spiritualitas pesantren” membuat acara tersebut menjadi seru, tegang dan haru.
Al-ghoriib disini saya coba dari prespektif khasanah intelektual pesantren
makna al-ghoriib ini sangat luas kajiannya dari para ulama kita khususnya pada
ulama tafsir. Ulama hadis dan sebagainya. Lafad al-ghoriib secara bahasa adalah
dinamakan asing selain itu juga peristiwa aneh. Tukas pengamat budaya
pesantren. Menurutnya juga al-ghoriib itu sudah ada dalam khasanah intelektual
pesantren untuk menarik hikmah dari sebuah pelajarannya. Dan juga temanya
sangat bagus dan luar biasa harus mencangkup pesantren bukan hanya komplek
saja, tuturnya.mnurut aktivis psikologi al-ghoriibatau suatu keanehan /
keasingan yang dianggap suetu ilmiah sebuah kebenaran. Diantaranya terdapat
pertanyaan-pertanyaaan. Tapi semua santri antusias dengan beberapa pertanyaan
diantarannya adalah tentang pengalaman di jerman dan sisi sulitnya mbk. Katrin
dalam keluarganya setelah menjadi seorang muslim. Menurut dia itu adalah memang
sebuah hal berat bahkan jadi tantangan bagi dia soalnya untuk cari tempat
sholat dan wudhu yang tidak dimana-mana ada masjid itu diatasi dia dengan
membawa botol aqua kemana-mana untuk wudhu. Tapi itu bukan hal tersulitnya ,
hal tersulitnya itu adalah dengan keluarga karena dia masih melepas jilbab
disana karena budaya kampung nanti menganggap aneh diri saya dan sekedar hanya
menghormati orang tuanya terutama ibunya yang masih berat menerima keislamannya
apalagi melihat dia mengenakan jilbab mungkin sangat berat sekali bagi ibunya.
Apa yang bagi dia adalah anugerah tapi bagi ibunya merupakan musibah terbesar
baginya. Dia juga merenungi karena disisi lain dia sebagai anak dan seorang
muslim harus menghormati orang tua, harus membahagiakan orangtuannya tapi
situasinya seperti itu mnurut dia itu tidak mudah. Dan dia juga jika berpikiran
lebih jauh dia merasa khawatir dengan keselamatan orang tuannya karena keduanya
tidak bertuhan bagaimana nasib kedua orang tuannya setelah meninggal. Ya
menurut dia itu yang terberat bagi dia.begitulah kisah nyata yang penuh
inspiratif dan menyadarkan kita semua bahwasannya hidup itu seperti air yang
mengalir tapi tak harus hanyut terus dengan arusnya maksudnya adalah hidup itu
mengalir seiringnya berjalannya keidupan tapi kita tidak boleh hanyut dalam
kehidupan itu, kita mempunyai banyak hak untuk memilih ingin jadi apa kita dan
apa tujuan kita karena hidup itu pilihan dan hanya sekali seumur hidup dan
takkan terulang kembali dan kita harus ingat bahwa kita besok akan kembali pada
sang penciptannya.
http://www.kompasiana.com/kusnia/bedah-documentary-film-festival-2015-al-ghoriib_55fef5093cafbda30c92c401
Tidak ada komentar:
Posting Komentar