Sabtu, 26
september 2015 kemarin, tepatnya di Pantai Boom Banyuwangi telah diadakan
festival yaitu Gandrung sewu adalah hiburan tahunan yang ada di banyuwangi yang
dibawakan oleh 1000 penari gandrung, kebayangkan seperti lautan. Gandrung disini beda dengan gandrung setiap daerah atau kota
seperti yang ada dibali dan lain-lainnya karena dari cara pakaiannya saja sudah
berbeda apalagi tariannya hehehe. Tujuan diadakannya acara tahunan seperti itu
agar gandrung banyuwangi yang termasuk kesenian asli dari banyuwangi ini
terjaga kelestariannya karena di zaman sekarang ini banyak masyarakat terutama
generasi muda rentan melupakan kesenian daerah. Kok bisa begitu disebabkan oleh
ilmu pengetahuan teknologi yang canggih yang didalamnnya berisi hal-hal baru
seperti boy band dan girl band yang menurut generasi muda sekarang lebih
berkelas dan tidak ketinggalan zaman. hal itulah yang membuat pemerintahan
banyuwangi mengantisipasi sebelum tarian gandrung ini punah dan tidak ada
penerus yang mau meneruskannya kembali.
Sebelumnya
tarian gandrung ini di adakan bila ada acara adat seperti setelah habis panen dan
untuk penyambutan tamu istimewah seperti seorang raja saja. Tapi sekarang
Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik
laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya
baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan
lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang
subuh (sekitar pukul 04.00). Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan
orkestra khas ini populer di wilayah Banyuwangiyang
letaknya di ujung timur PulauJawa, itulah ciri khas dari wilayah tersebut, hingga
sampai saat ini Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Sampai-sampai
Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan buktinnya lagi patung
penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.
Dari segi
pakaian gandrung banyuwangi memiliki nama yang unik dan maksud tertentu. Warna
bajunya pun cukup menantang mata untuk mau melihatnya karena mencolok. Adapun
tariannya mulai dari jejer, maju atau ngibing, dan seblang subuh. Unik dan
semakin penasaran bukan. begitu juga dengan para ilmuwan yang malah sampai
melakukan penelitian tentang gandrung. kebanyakan menyebutkan gandrung yang ada
di banyuwangi melibatkan makhluk –makhluk halus orang zaman dahulu atau tidak
nenek moyang gitu. di urut-urut ternyata gandrung banyuwangi masih punya
kekerabatan dengan gandrung yang ada di bali, karena dulu pada zaman dahulu
saat genting-gentingnya daerah banyuwangi sebagian besar warga asli banyuwangi
hijrah ke bali, mataram, bahkan madura dan warga tersebut itu kebanyakan
keturunan asli yang mempunyai darah penari.
Musik pengiring
gandrung Banyuwangi terdiri dari satu buah kempul atau gong, satu buah kluncing (triangle), satu atau dua buah
biola, dua buah kendhang, dan sepasang kethuk. Di samping itu, pertunjukan tidak lengkap jika
tidak diiringi panjak atau kadang-kadang disebut pengudang untuk
pemberi semangat yang bertugas memberi semangat dan memberi efek kocak dalam
setiap pertunjukan gandrung. Peran panjak dapat diambil oleh pemain
kluncing. Selain itu kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung, atau rebana sebagai bentuk
kreasi dan diiringi electone. tari gandrung ini resmi menjadi maskot
pariwisata kota banyuwangi.
Perkembangan
terakhir Kesenian gandrung Banyuwangi masih tegar dalam menghadapi gempuran
arus globalisasi, yang
dipopulerkan melalui media elektronik dan media cetak. Pemerintah Kabupaten
Banyuwangi pun bahkan mulai mewajibkan setiap siswanya dari SD hingga SMA untuk
mengikuti ekstrakurikuler kesenian Banyuwangi. Salah satu di antaranya
diwajibkan mempelajari tari Jejer yang merupakan sempalan dari pertunjukan
gandrung Banyuwangi. Itu merupakan salah satu wujud perhatian pemerintah
setempat terhadap seni budaya lokal yang sebenarnya sudah mulai terdesak oleh
pentas-pentas populer lain seperti dangdut dan campursari. seperti halnya
diadakannya gandrung sewu ini. semoga tari gadrung ini tetap lestari sampai
zaman yang akan datang kelak.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar